Di antara keistimewaan terbesar yang menjadi ciri khas ibadah dalam agama Islam

Di antara keistimewaan terbesar yang menjadi ciri khas ibadah dalam agama Islam adalah tata cara ibadah, waktu pelaksanaan, serta beberapa syaratnya ditentukan oleh Allah Subḥānahu wa Ta’ālā dan diajarkan pula oleh Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Manusia tidak berhak untuk mengintervensi perkara ibadah sampai kapan pun; baik dengan menambahkan maupun dengan menguranginya. Dan setiap ibadah yang agung ini telah diajarkan oleh para nabi ‘alaihimus-salām.

Di antara keistimewaan terbesar yang menjadi ciri khas ibadah dalam agama Islam adalah tata cara ibadah, waktu pelaksanaan, serta syaratnya ditentukan oleh Allah Subḥānahū wa Ta’ālā dan diajarkan oleh Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Manusia tidak berhak untuk mengintervensi perkara ibadah sampai kapan pun; baik dengan menambahkan maupun dengan menguranginya.

Allah Ta’ālā berfirman,

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam jadi agama bagimu."

(QS. Al-Mā`idah: 3)

Allah Ta’ālā juga berfirman,

"Maka berpegangteguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus."

(QS. Az-Zukhruf: 43)

Allah Ta’ālā juga berfirman tentang ibadah salat,

"Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan salat, ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."

(QS. An-Nisā`: 103)

Allah Ta’ālā juga berfirman tentang orang-orang yang berhak mendapat zakat,

"Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."

(QS. At-Taubah: 60)

Allah Ta’ālā juga berfirman tentang ibadah puasa,

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`ān sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."

(QS. Al-Baqarah: 185)

Allah Ta’ālā juga berfirman tentang ibadah haji,

"(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafaṡ), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!"

(QS. Al-Baqarah: 197).

Seluruh ibadah yang agung ini telah menjadi ajaran yang disampaikan para nabi ‘alaihimus-salām.

Pilih Bahasa Anda