Mereka pun maksum dari seluruh perkara yang menyelisihi akal atau bertolak belakang dengan akhlak mulia. Para nabi bertugas menyampaikan perintah-perintah Allah kepada para hamba-Nya. Mereka tidak sedikit pun memiliki sifat rubūbiyyah (ketuhanan) atau ulūhiyyah (keilahian), karena mereka ha-nyalah manusia biasa seperti yang lain, hanya saja Allah telah mengaruniai wahyu kepada mereka dengan berbagai risalah-Nya
Para nabi ‘alaihimus-salām maksum (terpelihara dari dosa) dalam menyampaikan wahyu Allah; karena Allah telah memilih makhluk terbaik-Nya untuk menyampaikan berbagai risalah-Nya. Allah Ta’ālā berfirman,
"Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Allah Ta’ālā juga berfirman,
"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing)."
Allah Ta’ālā juga berfirman,
"(Allah) berfirman, 'Wahai Musa! Sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) engkau dari manusia yang lain (pada masamu) untuk membawa risalah-Ku dan firman-Ku, sebab itu berpegangteguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.'”
Para rasul mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepada mereka adalah wahyu ilahi dan mereka pun bisa menyaksikan langsung para malaikat turun dengan membawa wahyu.
"Dia mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhan-nya, sedang ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu."
Allah juga memerintahkan mereka untuk menyampaikan berbagai risalah-Nya.
"Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir."
Allah Ta’ālā juga berfirman,
"Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Sungguh Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana."
Para rasul ‘alaihimuṣ-ṣalātu was-salām sejatinya sangat takut dan tidak berani kepada Allah. Oleh karena itu, mereka tidak ada yang berani menambah risalah-Nya dan tidak berani pula menguranginya.
"Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya. Maka tidak seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya)."
Ibnu Kaṡīr raḥimahullāh berkata, "Allah Ta’ālā berfirman, 'Seandainya dia mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami'; yakni Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Jika saja dia seperti yang mereka tuduhkan, yakni mengadakan kedustaan atas nama Kami sehingga dia memberikan tambahan atau pengurangan pada risalah tersebut, atau dia mengatakan sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri, lalu menisbahkannya kepada Kami, sedang Kami tidak pernah mengatakannya, pasti Kami menyegerakan siksaan untuknya. Oleh karena itu, Allah berfirman, 'Niscaya Kami benar-benar akan siksa dia dengan tangan kanan.' Ada yang berpendapat bahwa artinya adalah Kami akan membalasnya dengan tangan kanan, karena tangan kanan itu mempunyai kekuatan lebih dahsyat. Dan ada juga yang berpendapat, yakni niscaya Kami akan pegang tangan kanannya."
Allah Ta’ālā juga berfirman,
"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam! Adakah kamu mengatakan kepada manusia: jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah? Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.'"
(QS. Al-Mā`idah: 116-117)
Di antara keutamaan yang Allah karuniakan kepada para nabi dan rasul ‘alaihimuṣ-ṣalātu was-salām adalah bahwa Allah meneguhkan hati mereka dalam menyampaikan risalah-risalah-Nya.
"Dia (Hūd) menjawab, 'Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun, melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.'"
Allah Ta’ālā juga berfirman,
"Dan mereka hampir memalingkan engkau (Muhammad) dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar engkau mengada-adakan yang lain terhadap Kami; dan jika demikian tentu mereka menjadikan engkau sahabat yang setia.Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka.Jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan berlipat ganda setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami."
Ayat-ayat ini dan yang sebelumnya menjadi saksi dan dalil bahwa Al-Qur`ān diturunkan oleh Allah, Tuhan semesta alam. Sebab, bila Al-Qur`ān itu berasal dari Rasul Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, niscaya beliau tidak akan menyematkan semisal ayat ancaman yang ditujukan pada dirinya sendiri tersebut dalam Al-Qur`ān. Allah Subḥānahu wa Ta’ālā senantiasa melindungi para rasul-Nya dari gangguan manusia.
"Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir."
Allah Ta’ālā juga berfirman,
"Dan bacakanlah kepada mereka berita penting (tentang) Nuh ketika (dia) berkata kepada kaumnya, 'Wahai kaumku! Jika terasa berat bagimu aku tinggal (bersamamu) dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah aku bertawakal. Karena itu, bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku), dan janganlah keputusanmu itu dirahasiakan. Kemudian bertindaklah terhadap diriku, dan janganlah kamu tunda lagi!"
Allah Ta’ālā berfirman mengabarkan ucapan Nabi Musa ‘alaihis-salām:
"Berkatalah mereka berdua, 'Ya Tuhan kami! Sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas.' Allah berfirman, 'Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.'"
Allah Ta’ālā menjelaskan bahwa Dia akan selalu menjaga para rasul-Nya ‘alaihimus-salām dari gangguan para musuhnya; agar mereka tidak terkena keburukannya. Allah Subḥānahu wa Ta’ālā juga mengabarkan bahwa Dia selalu memelihara wahyu-Nya, tidak ada yang ditambah dan tidak ada yang dikurangi. Allah Ta’ālā berfirman,
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur`ān dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya."
Para nabi ‘alaihimus-salām itu terjaga dari segala hal yang menyelisihi akal maupun perangai yang mulia. Allah Ta’ālā berfirman menyucikan Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur."
Dia juga berfirman,
"Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila."
Hal tersebut dilakukan; agar para nabi dapat menjalankan tugas mereka dalam menyampaikan wahyu dengan sebaik-baiknya.
Para nabi ‘alaihimus-salām sejatinya adalah para mukalaf yang dibebani untuk menyampaikan perintah-perintah Allah kepada hamba-Nya. Dengan demikian; mereka tidak memiliki sama sekali keistimewaan yang berkaitan dengan rubūbiyyah dan ulūhiyyah. Namun, mereka hanyalah manusia biasa seperti yang lain, hanya saja Allah telah melebihkan mereka dari yang lain dengan menurunkan wahyu kepada mereka.
"Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, 'Kami hanyalah manusia seperti kamu, tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Tidak pantas bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah saja hendaknya orang yang beriman itu bertawakal.'"
Allah Ta’ālā juga berfirman memerintahkan kepada Rasul-Nya, Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam agar menyampaikan kepada kaumnya,
"Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: bahwa sesungguhnya sesembahan kamu adalah Ilah Yang Esa. Maka barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia berbuat kemusyrikan sedikit pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.'"