Allah adalah Rabb Yang Maha Penyayang;

Allah adalah Rabb Yang Maha Penyayang; Dia sendiri yang akan menghisab seluruh makhluk-Nya pada hari Kiamat kelak setelah Dia membangkitkan mereka kembali dari alam kuburnya, lalu setiap makhluk akan diberikan balasan berdasarkan amalannya, baik amal kebaikan maupun keburukan. Siapa yang beramal kebaikan dan ia beriman, maka baginya kesenangan yang abadi (surga). Sebaliknya, siapa yang ingkar dan berbuat keburukan, maka baginya azab yang pedih di hari Kiamat kelak.

Di antara bentuk sempurnanya keadilan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā, kebijaksanaan serta rahmat-Nya kepada makhluk-Nya ialah Dia menjadikan dunia ini sebagai ladang untuk beramal, sedangkan akhirat dijadikan sebagai tempat pembalasan, hisab dan ladang pahala. Demikian itu agar orang yang baik mendapat balasan kebaikannya, sedang orang yang jahat, zalim dan suka aniaya akan mendapat balasan atas aniaya dan kezalimannya. Hal seperti ini kadang didustai oleh sebagian orang, padahal Allah telah menegaskan berbagai macam dalil yang menunjukkan bahwa hari kebangkitan itu nyata, tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

Allah Ta’ālā berfirman,

"Dan sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya, engkau melihat bumi itu kering dan tandus, tetapi apabila Kami turunkan hujan di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya (Allah) yang menghidupkan-nya pasti dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu."

(QS. Fuṣṣilat: 39)

Allah Ta’ālā juga berfirman,

"Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai pada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur serta menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah."

(QS. Al-Ḥajj: 5)

Allah Ta’ālā telah menyebutkan dalam ayat ini tiga dalil akli yang menunjukkan terjadinya hari kebangkitan, yaitu:

1-   Sesungguhnya manusia ketika pertama kali diciptakan Allah itu berasal dari tanah. Maka, siapa pun yang mampu menciptakannya dari tanah, dia pasti mampu juga menghidupkannya kembali ketika ia telah menjadi tanah (mati).

2- Sejatinya siapa pun yang mampu menciptakan manusia dari air mani; pasti mampu juga menghidupkannya kembali setelah ia mati.

3- Sesungguhnya siapa pun yang mampu menghidupkan (menumbuhkan) bumi dengan air hujan setelah sebelumnya tandus; pasti mampu juga menghidupkan manusia kembali setelah kematiannya. Dalam ayat ini terdapat dalil yang agung terkait kemukjizatan Al-Qur`ān, di mana ayat ini -yang tidak terlalu panjang- mampu membawakan tiga bukti (dalil) akli yang brilian sekaligus yang seluruhnya membuktikan satu persoalan yang agung.

Allah Ta’ālā berfirman,

"(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati; sungguh, Kami akan melaksanakannya."

(QS. Al-Anbiyā`: 104)

Allah Ta’ālā berfirman,

"Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh? 'Katakanlah (Muhammad), "Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk."

(QS. Yāsīn: 78-79)

Allah Ta’ālā juga berfirman,

"Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya? Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.Ia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh."

(QS. An-Nāzi'āt: 27-32)

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa penciptaan manusia itu lebih mudah dibandingkan penciptaan langit dan bumi serta seisinya. Dengan demikian; siapa pun yang mampu menciptakan langit dan bumi maka tidaklah susah baginya untuk menghidupkan manusia kembali setelah kematiannya.

Pilih Bahasa Anda