Allah Subḥānahu
wa Ta’ālā tidak menempati salah satu tempat makhluk-Nya, tidak bersatu
dalam satu tubuh dengan makhluk-Nya, dan tidak juga bersatu dengan apa pun. Hal
itu dikarenakan Allah adalah pencipta, sedang selain Allah hanyalah makhluk.
Dan Allah Mahakekal, sedangkan yang lain pasti akan binasa. Segala sesuatu itu
milik-Nya, sebab Allah adalah penguasanya. Maka, tidak patut bagi Allah
menempati salah satu tempat makhluk-Nya, dan tidak layak juga bagi makhluk
Allah menempati Zat-Nya. Sebab Allah Subḥānahu wa Ta’ālā lebih besar
dari segala sesuatu dan lebih agung dari seluruh makhluk-Nya.
Allah Ta’ālā
mengingkari siapa saja yang menyangka bahwa Allah telah menyatu dengan Almasih
Isa dalam firman-Nya:
"Sungguh, telah kafir orang yang berkata, 'Sesungguhnya Allah itu adalah Almasih putra Maryam.' Katakanlah (Muhammad), 'Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Almasih putra Maryam beserta ibunya dan seluruh (manusia) yang berada di bumi?' Dan milik Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."
Allah Ta’ālā
juga berfirman,
"Dan milik Allahlah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.Dan mereka berkata, 'Allah mempunyai anak.' Mahasuci Allah, bahkan milik-Nyalah apa yang di langit dan di bumi. Semua tunduk kepada-Nya.Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya, 'Jadilah'. Lalu jadilah ia.”
(QS. Al-Baqarah: 115-117)
Allah Ta’ālā
berfirman,
"Dan mereka berkata, 'Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. 'Sungguh, kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Hampir saja langit pecah dan bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu), karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Dia (Allah) benar-benar telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari Kiamat dengan sendiri-sendiri."
Allah Ta’ālā
juga berfirman,
"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar."
Inilah keagungan
Allah dan kerendahan makhluk-Nya; lalu bagaimana mungkin seseorang menjadikan
Allah menyatu dengan salah satu makhluk-Nya? Atau menjadikan makhluk-Nya
sebagai anak bagi Allah? Atau menjadikan makhluk-Nya sebagai tuhan yang
disembah selain Allah?