Islam selalu mengajak -sebagaimana ajakan dakwah para nabi: Nuh, Ibrahim, Musa, Sulaiman, Daud, dan Isa ‘alaihimus-salām - untuk mengimani bahwa Rabb (yang behak disembah)

Islam selalu mengajak -sebagaimana ajakan dakwah para nabi: Nuh, Ibrahim, Musa, Sulaiman, Daud, dan Isa ‘alaihimus-salām - untuk mengimani bahwa Rabb (yang berhak disembah) adalah Allah Yang Maha Pencipta, Maha Pemberi rezeki, Maha Menghidupkan, Maha Mematikan dan Maha Pemilik Kekuasaan, dan bahwa Dialah yang mengatur seluruh alam semesta, serta Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

Allah Ta’ālā berfirman,

"Wahai manusia! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka mengapa kamu berpaling (dari ketauhidan)?"

(QS. Fāṭir: 3)

Allah Ta’ālā berfirman,

"Katakanlah (Muhammad), 'Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab, 'Allah.' Maka katakanlah, 'Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?'"

(QS. Yūnus: 31)

Allah Ta’ālā berfirman,

"Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan (makhluk) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (lagi) dan yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah, 'Kemukakanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang yang benar.'"

(QS. An-Naml: 64)

Seluruh nabi dan rasul ‘alaihimus-salām diutus untuk mendakwahkan peribadatan kepada Allah semata.

Allah Ta’ālā berfirman,

"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut,' kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul)."

(QS. An-Naḥl: 36)

Allah Ta’ālā berfirman, "

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, 'Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku!'"

(QS. Al-Anbiyā`: 25)

Allah Ta’ālā juga mengisahkan tentang nabi Nuh ‘alaihis-salām ketika beliau berkata (kepada kaumnya),

"Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (Kiamat)."

(QS. Al-A'rāf: 59)

Al-Khalīl Nabi Ibrahim ‘alaihis-salām pernah berkata sebagaimana yang diki-sahkan oleh Allah dalam firman-Nya:

"Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika dia berkata kepada kaumnya, 'Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.'"

(QS. Al-'Ankabūt: 16)

Nabi Ṣāliḥ ‘alaihis-salām juga pernah berkata (kepada kaumnya) sebagaimana yang Allah kisahkan dalam salah satu firman-Nya:

"Dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda (kebenaranku) untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih.'"

(QS. Al-A'rāf: 73)

Nabi Syu'aib ‘alaihis-salām juga pernah berkata (kepada kaumnya) sebagaimana yang Allah kisahkan dalam firman-Nya:

"Dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman. '"

(QS. Al-A'rāf: 85).

Dan firman Allah yang pertama kali disampaikan kepada Nabi Musa ‘alaihis-salām ialah:

"Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku."

(QS. Ṭāhā: 13-14)

Allah Ta’ālā juga telah mengabarkan tentang Nabi Musa ‘alaihis-salām tatkala memohon perlindungan kepada Allah, ia berkata,

"Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari perhitungan."

(QS. Gāfir: 27)

Allah Ta’ālā mengisahkan ucapan Almasih Isa ‘alaihis-salām dalam firman-Nya: 

 "Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus."

(QS. Āli 'Imrān: 51)

Juga mengisahkan ucapannya dalam firman-Nya:

"Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu."

(QS. Al-Mā`idah: 72)

Bahkan dalam Kitab Taurat dan Injil terdapat penegasan untuk beribadah kepada Allah semata. Hal itu tercantum di Kitab Ulangan berkaitan dengan ucapan Nabi Musa ‘alaihis-salām (kepada kaumnya), "Dengarkanlah wahai Bani Israil! Tuhan kita itu Tuhan Yang Esa."

Penegasan tentang ajaran tauhid ini juga terdapat dalam Injil Markus, bahwa Almasih Isa ‘alaihis-salām berkata, "Sesungguhnya wasiat pertama adalah: dengarkanlah Wahai Bani Israil! Tuhan kita adalah Tuhan Yang Esa."

Allah ‘Azza wa Jalla telah menjelaskan bahwa seluruh nabi memang diutus dengan membawa misi yang mulia ini, yaitu dakwah kepada tauhid. Allah Ta’ālā berfirman,

"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut.' Kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan."

(QS. An-Naḥl: 36)

Allah Ta’ālā juga berfirman,

"Katakanlah (Muhammad), 'Terangkanlah (kepadaku) tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepadaku apa yang telah mereka ciptakan dari bumi, atau adakah peran serta mereka dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepadaku kitab sebelum (Al-Qur`ān) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu orang yang benar.'"

(QS. Al-Aḥqāf: 4)

Syekh As-Sa'diy raḥimahullāh berkata,

"Perdebatan orang-orang musyrik untuk menguatkan kemusyrikan mereka sama sekali tidak bersandar kepada dalil maupun bukti, bahkan hanya bersandar kepada sangkaan-sangkaan yang dusta, logika-logika yang tidak laku dan tidak dipandang, serta akal yang rusak. Rusaknya opini mereka dapat diketahui jika menelusuri keadaan mereka, pengetahuan, dan amal mereka, serta melihat keadaan orang yang menghabiskan umurnya untuk menyembah patung dan berhala itu; apakah memberi manfaat bagi mereka meskipun sedikit di dunia dan akhirat?"

(Taisīr Al-Karīm Al-Mannān: 779)

Pilih Bahasa Anda