Tujuan dari seluruh risalah Allah adalah agar agama yang benar (Islam)...

Sejatinya tujuan dari seluruh risalah ilahi adalah agar agama yang benar (Islam) semakin meningkatkan kemuliaan manusia hingga ia menjadi hamba yang selalu mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah, Rabb semesta alam. Islam bertujuan membebaskan manusia dari penghambaan terhadap materi maupun khurafat.

Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Binasalah budak dinar, dirham, pakaian beludru, dan pakaian wol bermotif. Jika diberi dia rida, tetapi jika tidak diberi dia tidak rida."

(Sahih Bukhari: 6435)

Jadi, manusia yang normal tak akan tunduk kecuali hanya kepada Allah; ia tidak akan diperbudak harta, martabat, pangkat dan kesukuan. Dalam kisah berikut ini akan terungkap bagi setiap pembaca; apa yang sebenarnya terjadi pada manusia sebelum Nabi diutus? Dan bagaimana hasilnya setelah masa kenabian?

Tatkala kaum muslimin berhijrah pertama kali ke negeri Ḥabasyah, Raja Ḥabasyah ketika itu -An-Najāsyiy- bertanya kepada mereka, "Agama apa yang menyebabkan kalian meninggalkan kaum kalian, dan kalian juga tidak masuk pada agamaku atau agama umat lainnya?"

Lantas Ja'far bin Abī Ṭālib menjawab,

"Wahai sang Raja! Kami dahulu adalah kaum yang jahil, kami menyembah berhala dan memakan bangkai, melakukan berbagai keburukan dan memutus tali kekerabatan, berbuat jahat terhadap tetangga. Orang yang kuat di antara kami memangsa yang lemah, dan kami masih dalam keadaan seperti itu sampai Allah mengutus kepada kami seorang rasul dari kalangan kami sendiri. Kami mengetahui nasabnya dan kejujurannya, amanahnya dan kehati-hatiannya dalam menjaga kehormatannya. Dia mengajak kami kepada Allah agar kami mengesakan-Nya dan hanya menyembah-Nya, serta meninggalkan apa yang kami dan nenek moyang kami sembah berupa batu dan patung. Dia menyuruh kami untuk jujur dalam berbicara, menunaikan amanah dan menyambung silaturahmi, berbuat baik terhadap tetangga dan menahan dari hal-hal yang haram dan (menumpahkan) darah. Dia melarang kami melakukan berbagai kekejian, perkataan dusta, memakan harta anak yatim dan menuduh wanita yang baik dengan tuduhan berzina. Dia menyuruh kami agar kami menyembah Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dia menyuruh kami untuk mengerjakan salat, zakat dan puasa." Dia menyebutkan berbagai hal yang berkaitan dengan perkara-perkara Islam, lalu melanjutkan, "Kami lalu membenarkannya, beriman kepadanya dan mengikuti apa yang beliau bawa. Kami lalu menyembah Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Kami mengharamkan apa yang diharamkannya untuk kami dan kami menghalalkan apa yang dihalalkannya untuk kami ..."

(HR. Ahmad: 1740 dengan sedikit perubahan redaksi dan Abu Nu'aim dalam Ḥilyah Al-Auliyā`: 1/115 secara ringkas).

Agama Islam -sebagaimana engkau saksikan- tidak akan mengultuskan seseorang serta memosisikannya melebihi kedudukannya yang sebenarnya, dan tidak pula menjadikan mereka sebagai tuhan dan sesembahan yang diibadahi.

Allah Ta’ālā berfirman,

"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah.' Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), 'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim.'”

(QS. Āli 'Imrān: 64)

Allah Ta’ālā juga berfirman,

"Dan tidak (mungkin pula baginya) menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruh kamu menjadi kafir setelah kamu menjadi muslim?"

(QS. Āli 'Imrān: 80)

Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku seperti orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanya seorang hamba, maka katakan (panggil aku), 'Hamba Allah dan Rasul-Nya'."

(Sahih Bukhari: 3445)

Pilih Bahasa Anda