Islam memerintahkan untuk berbuat adil; baik dalam ucapan maupun perbuatan, meskipun terhadap para musuh

Allah Subḥānahu wa Ta’ālā memiliki sifat adil dalam setiap perbuatan dan dalam mengatur para hamba-Nya, Dia senantiasa di atas jalan yang lurus di setiap perintah dan larangan-Nya, dan di setiap penciptaan dan takdir-Nya. Allah Ta’ālā berfirman,

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. (Juga menyatakan yang demikian itu) para malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."

(QS. Āli 'Imrān: 18)

Allah Ta’ālā juga memerintahkan untuk berbuat adil. Allah Ta’ālā berfirman,

"Katakanlah, 'Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan.'"

(QS. Al-A'rāf: 29)

Seluruh rasul dan nabi ‘alaihimuṣ-ṣalātu was-salām diutus untuk menegakkan keadilan. Allah Ta’ālā berfirman,

"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan."

(QS. Al-Ḥadīd: 25)

Neraca keadilan artinya berbuat adil dalam perkataan dan perbuatan.

 Islam memerintahkan untuk berbuat adil, baik dalam ucapan maupun perbuatan, meskipun terhadap para musuh:

"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah meskipun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan."

(QS. An-Nisā`: 135)

Allah Ta’ālā berfirman,

"Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."

(QS. Al-Mā`idah: 2)

Allah Ta’ālā juga berfirman,

"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa."

(QS. Al-Mā`idah: 8)

Apakah engkau bisa mendapati dalam undang-undang manusia sekarang, atau dalam ajaran agama lain seperti syariat Islam ini; yang senantiasa menyuruh bersaksi dengan adil serta berkata jujur sekalipun terhadap diri sendiri, kedua orang tua dan kerabat, serta mengharuskan untuk berbuat adil sekalipun dengan musuh ataupun dengan teman sendiri?!

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan orang tua untuk berbuat adil pada anak-anaknya.

Āmir meriwayatkan: Aku mendengar An-Nu'mān bin Basyīr raḍiyallāhu ‘anhumā berkhotbah di atas mimbar, ia berkata,

"Bapakku memberiku sebuah hadiah (pemberian tanpa imbalan). Maka 'Amrah binti Rawāḥah berkata, 'Aku tidak rela sampai kamu mempersaksikannya kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.' Maka bapakku menemui Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan berkata, 'Aku memberi anakku dari 'Amrah binti Rawāḥah sebuah hadiah, namun dia memerintahkan aku agar aku mempersaksikannya kepada Anda, wahai Rasulullah.' Beliau bertanya, 'Apakah kamu memberikan seperti ini kepada semua anakmu?' Dia menjawab, 'Tidak.' Beliau bersabda, 'Bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah di antara anak-anak kalian.' Maka 'Amir kembali, dan An-Nu'mān mengembalikan pemberian ayahnya."

(Sahih Bukhari: 2587)

Oleh karena itu, urusan manusia dan negara tidak akan bisa teratur kecuali dengan keadilan, dan manusia juga tidak akan merasakan aman terkait agama, darah, anak keturunan, kehormatan, harta benda, dan negaranya kecuali dengan keadilan pula. Oleh karena itu, kita mendapati Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk berhijrah ke negeri Ḥabasyah tatkala orang-orang kafir Mekah berusaha menekan kaum muslimin di Kota Mekah. Beliau beralasan bahwa raja di negeri tersebut berlaku adil dan tidak berbuat zalim kepada siapa pun.

Pilih Bahasa Anda