Islam senantiasa mengajak kepada keimanan terhadap pokok-pokok dasar iman yang agung, sebagaimana yang didakwahkan oleh seluruh nabi dan rasul ‘alaihimus-salām, yaitu:
Pertama: Mengimani Allah sebagai Rabb (Tuhan), Pencipta, Pemberi rezeki, Pengatur alam semesta serta satu-satunya yang patut disembah. Setiap ibadah kepada selain Allah, merupakan ibadah yang batil (sesat), sebab setiap yang disembah selain Allah itu adalah batil, sehingga tidak layak melakukan ibadah kecuali hanya kepada-Nya. Ibadah tidak sah kecuali hanya kepada-Nya. Dalil yang berkaitan dengan persoalan ini telah disebutkan pada poin ke-8.
Allah Subḥānahu wa Ta’ālā telah menjelaskan pokok-pokok dasar yang agung ini dalam banyak ayat dalam Al-Qur`ān yang mulia, di antaranya adalah firman-Nya:
"Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`ān) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.' Dan mereka berkata, 'Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.'"
Allah Ta’ālā juga berfirman,
"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."
Allah Ta’ālā juga mengajak untuk mengimani pokok-pokok keimanan ini dan menjelaskan bahwa setiap orang yang mengingkarinya maka ia telah tersesat sa-ngat jauh.
"Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada kitab (Al-Qur`ān) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh. "
Dalam hadis riwayat Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu ‘anhu, dia berkata,
"Dahulu kami pernah berada di sisi Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan. Tidak seorang pun dari kami mengenalnya, hingga dia mendatangi Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia berkata, 'Wahai Muhammad! Kabarkanlah kepadaku tentang Islam?' Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjawab, 'Islam ialah Anda bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan berpuasa Ramadan, serta berhaji ke Baitullah jika kamu mampu bepergian kepadanya.' Dia berkata, 'Kamu benar.' Umar berkata, 'Maka kami heran terhadapnya karena dia mena-nyakannya lalu membenarkannya.' Dia bertanya lagi, 'Kabarkanlah kepadaku tentang iman itu?' Beliau menjawab, 'Anda beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk.' Dia berkata, 'Kamu benar.' Dia bertanya, 'Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan itu?' Beliau menjawab, 'Anda menyembah Allah seakan-akan Anda melihat-Nya, maka jika Anda tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.'"
Dalam hadis ini, Jibril ‘alaihis-salām mendatangi Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya kepada beliau tentang tingkatan agama Islam, yaitu Islam, iman, dan ihsan. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam lalu menjawabnya, kemudian beliau memberitahukan kepada para sahabatnya raḍiyallāhu ‘anhum bahwa lelaki yang datang tersebut adalah Jibril ‘alaihis-salām yang mendatangi para sahabat untuk mengajarkan kepada mereka tentang agama mereka. Inilah sejatinya inti ajaran Islam; risalah Allah yang dibawa Jibril ‘alaihis-salām, lalu disampaikan kepada manusia oleh Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, serta dijaga dengan baik oleh para sahabat raḍiyallāhu ‘anhum dan disampaikan kepada generasi selanjutnya.
Kedua: Mengimani para malaikat.
Mereka adalah makhluk gaib yang Allah ciptakan dan jadikan dengan rupa yang khusus. Allah membebani mereka dengan tugas yang mulia. Di antara tugas mereka yang paling agung adalah menyampaikan risalah Allah kepada para rasul dan nabi ‘alaihimus-salām. Adapun malaikat yang paling mulia adalah Jibril ‘alaihis-salām. Di antara dalil yang menunjukkan turunnya Jibril dengan membawa wahyu kepada para rasul adalah firman Allah Ta’ālā:
"Dia menurunkan para malaikat membawa wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, (dengan berfirman) yaitu, 'Peringatkanlah (hamba-hamba-Ku), bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku. '"
"Dan sungguh, (Al-Qur`ān) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Yang dibawa turun oleh Ar-Rūḥ Al-Amīn (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. Dan sungguh, (Al-Qur`ān) itu (disebut) dalam kitab-kitab orang yang terdahulu.”
(QS. Asy-Syu'arā`: 192-196)
Ketiga: Mengimani kitab-kitab Allah, semisal: Taurat, Injil, Zabur -sebelum ketiganya mengalami distorsi- dan Al-Qur`ān.
"Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur`ān) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh."
"Dia menurunkan Kitab (Al-Qur`ān) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan Dia menurunkan Taurat dan Injilsebelumnya, sebagai petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqān. Sungguh, orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh azab yang berat. Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa)."
"Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`ān) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.' Dan mereka berkata, 'Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.'"
Allah Ta’ālā juga berfirman,
"Katakanlah (Muhammad), 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun diantara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.'"
Keempat: Mengimani seluruh nabi dan rasul.
Wajib hukumnya mengimani seluruh nabi dan rasul, serta meyakini bahwa mereka semua adalah utusan Allah yang ditugasi untuk menyampaikan berbagai risalah Allah, ajaran agama dan syariat-Nya kepada umat mereka.
"Katakanlah, 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami berserah diri kepada-Nya.'"
Allah Ta’ālā juga berfirman,
"Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`ān) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.' Dan mereka berkata, 'Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.'"
Allah Ta’ālā juga berfirman,
"Katakanlah (Muhammad), 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.'”
Juga mengimani penutup para nabi dan rasul, yaitu Muhammad Rasulullah.
"Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu lalu datang kepada kamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman, 'Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?' Mereka menjawab, 'Kami setuju.' Allah berfirman, 'Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu.'"
Islam mewajibkan untuk mengimani seluruh nabi dan rasul 'alaihimuṣ-ṣalātu was-sallām secara umum. Dan mewajibkan pula mengimani penutup para nabi, yaitu Rasulullah Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.
"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab! Kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al-Qur`ān yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.'"
"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah.' Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), 'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim.'”
Barangsiapa yang mengingkari satu nabi saja, maka ia dianggap telah mengingkari seluruh nabi dan rasul ‘alaihimus-salām. Oleh karena itu, Allah berfirman mengabarkan hukum-Nya terhadap kaum Nabi Nuh ‘alaihis-salām, "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul." (QS. Asy-Syu'arā`: 105)
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa Nabi Nuh ‘alaihis-salām adalah rasul pertama. Namun, tatkala kaumnya mengingkari ajakan beliau, maka ke-dustaan mereka kepada beliau dianggap kedustaan pula kepada seluruh nabi dan rasul; karena dakwah para nabi dan tujuan mereka semua itu sama.
Kelima: Mengimani hari akhir, yaitu hari Kiamat.
Di akhir kehidupan dunia ini, Allah akan memerintahkan malaikat Israfil ‘alaihis-salām untuk meniup (sangkakala) dengan satu tiupan. Akhirnya, semua makhluk yang dikehendaki Allah akan pingsan dan mati.
"Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian, ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)."
Bila seluruh yang hidup di langit dan di bumi telah binasa kecuali yang Allah kehendaki, Allah akan menggulung langit dan bumi; sebagaimana firman-Nya:
"(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati; sungguh, Kami akan melaksanakannya."
Allah Ta’ālā juga berfirman,
"Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Maha-tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."
Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Allah akan melipat semua langit kelak di hari Kiamat, kemudian Dia menggenggamnya dengan tangan kanan-Nya dan berfirman, 'Akulah Maharaja, di manakah orang-orang yang bertindak sewenang-wenang? Di manakah orang-orang yang sombong?' Kemudian Dia melipat tujuh lapis bumi dan menggenggamnya dengan tangan kiri-Nya seraya berfirman, 'Akulah Maharaja, di manakah orang-orang yang bertindak sewenang-wenang? Di manakah orang-orang sombong?'"
Kemudian Allah memerintahkan malaikat (peniup sangkakala) untuk meniup sangkakala sekali lagi. Tiba-tiba mereka (manusia) berdiri menunggu (putusannya masing-masing).
"Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)."
Bila manusia telah dibangkitkan oleh Allah, Allah akan menggiring mereka untuk menghisab amalan mereka.
"(Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami."
Allah Ta’ālā juga berfirman,
"(Yaitu) pada hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tidak sesuatu pun keadaan mereka yang tersembunyi di sisi Allah. (Lalu Allah berfirman), 'Milik siapakah kerajaan pada hari ini?' Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan."
Pada hari itu, Allah akan menghisab seluruh amalan manusia; setiap orang zalim pasti akan dikisas (dituntut balas) oleh orang yang dizalimi dan setiap manusia akan dibalas berdasarkan perbuatannya.
"Pada hari ini, setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya."
"Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan (sekecil zarah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya."
Allah Ta’ālā juga berfirman,
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
Allah Ta’ālā juga berfirman,
"Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekali pun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan."
Setelah selesainya proses kebangkitan dan hisab, manusia akan melalui proses pembalasan. Siapa yang berbuat kebaikan, baginya nikmat abadi yang tak pernah sirna. Namun, siapa yang berbuat keburukan dan kekufuran, maka baginya azab.
"Kekuasaan pada hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan berada dalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, maka bagi mereka azab yang menghinakan."
Kita menyadari bahwa seandainya kehidupan dunia itu akhir dari segalanya, niscaya kehidupan ini dan keberadaannya akan menjadi sia-sia belaka.
"Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?"
Keenam: Mengimani kada dan kadar Allah.
Artinya; wajib hukumnya mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu di alam semesta ini, baik yang terjadi pada masa lampau atau yang sedang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi pada masa mendatang. Dan wajib mengimani pula bahwa Allah telah mencatat seluruh peristiwa tersebut sebelum penciptaan langit dan bumi.
"Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauḥ Maḥfūẓ)."
Ilmu Allah juga benar-benar meliputi segala sesuatu.
"Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya, benar-benar meliputi segala sesuatu."
Tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi di alam semesta ini kecuali telah dikehendaki, diinginkan, diciptakan dan dimudahkan urusannya oleh Allah.
"Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan, dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat."
Dalam permasalahan ini terdapat hikmah Allah yang sempurna, yang mampu dijangkau oleh manusia.
"(itulah) suatu hikmah yang sempurna. Tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka)."
"Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana."
Allah Ta’ālā telah menyifati diri-Nya dengan hikmah (bijaksana) dan menamakan diri-Nya dengan Al-Ḥakīm (Mahabijaksana). Dia berfirman,
"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. (Juga menyatakan yang demikian itu) para malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."
Allah Ta’ālā berfirman mengabarkan tentang Isa ‘alaihis-salām bahwa beliau akan berkomunikasi langsung dengan Allah kelak pada hari Kiamat seraya berkata,
"Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana."
Allah Ta’ālā juga berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihis-salām tatkala Allah memanggilnya, sedang beliau berada di dekat bukit Ṭūr, "Wahai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Allah, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana."
Dan Al-Qur`ān juga disifati dengan sifat bijaksana.
Allah Ta’ālā berfirman, "Alif lām rā`. (Inilah) kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci, (yang diturunkan) dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana, Mahateliti."
Allah Ta’ālā juga berfirman,
"Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah)."